Ikafe Universitas Riau Gelar Zoom Meeting Bertema Kepedulian Sosial

Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi (Ikafe) Universitas Riau menggelar zoom meeting bertema Islam dan Kesholihan Sosial, Sabtu (16/4). Pertemuan virtual digagas Departemen Sosial Budaya Keagamaan Ikafe Universitas Riau, dipandu Henny Maharani dan diikuti 62 partisipan dari berbagai kota di Indonesia dengan menghadirkan penceramah Prof. Akbarizan.
Ketua Ikafe Universitas Riau Djonieri membuka zoom meeting dengan menyambut baik diskusi keagamaan ini. Djonieri berharap banyak ilmu bermanfaat yang didapat peserta dengan mendengar ceramah bertajuk Ikafe Mengaji.
Akbarizan menganjurkan setiap orang meningkatkan amalan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial. Menurut Akbarizan, sedekah merupakan ibadah terbaik yang membuka jalan luas menuju surga. Ia menyatakan bahkan orang yang sudah mati meminta dihidupkan kembali agar bisa diberi kesempatan bersedekah.
“Amal paling baik itu sedekah. Atau disebut juga filantropi. Maka kita dituntut untuk memiliki jiwa dermawan,” kata Akbarizan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pekanbaru ini menjelaskan sedekah terbagi tiga jenis, yakni bersifat wajib, sunat dan jariyah. Sedekah wajib disebut juga zakat memiliki keistimewaan karena jumlah, waktu pemberian dan penerimanya tertentu.
“Setiap investasi atau usaha apabila sudah cukup nisab, wajib dikeluarkan zakatnya,” ujar Akbarizan.
Sedangkan sedekah sunat antara lain disebut infak kepada fakir miskin. Dalam infak, tidak ada ketentuan jumlah, waktu pemberian dan penerimanya. Infak dalam pengertian lebih luas bisa juga membantu orang lain dengan bekerja, senyum dan membuang duri dari jalan.
“Keringat kita saat membantu orang lain itu juga bisa disebut sedekah sunat atau infak,” kata Akbarizan.
Sementara sedekah jariyah dicontohkan seperti wakaf atau memberikan harta bersifat tahan lama dan pahalanya mengalir sampai kiamat. Menurut Akbarizan, harta ini harus dimanfaatkan, antara lain wakaf berupa tanah untuk rumah ibadah dan sekolah.
Selanjutnya wakaf dalam bentuk usaha, harus dikelola oleh nazir atau lembaga keuangan syariah/ bank, tidak boleh orang perorang. Tujuannya agar laba dan rugi wakaf itu dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Akbarizan mengungkapkan nazir mendapatkan 10 persen dari keuntungan wakaf usaha, sisanya untuk kemaslahatan.


Ia membedakan antara nazir dengan amil zakat. Menurut Akbarizan, nazir wajib memproduktifkan wakaf untuk mendapatkan manfaat besar, sedangkan amil tidak boleh melakukan hal itu.
Akbarizan menyinggung tentang keutamaan menjadi orang berharta. Dalam Islam, umat diminta untuk mencari kekayaan semata-mata untuk jalan masuk surga. “Sebab, kefakiran mendekatkan kita pada kekufuran,” ujar Akbarizan.
Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Riau Wan Muhammad Hasyim menyatakan kebahagiaan akan diraih ketika seseorang mau berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Menurut Wan, orang akan bahagia jika ia bisa menolong sesama dan menderita ketika bahagia tetapi tidak punya teman. “Oleh sebab itu, penting sekali kita bersilaturahmi untuk kebersamaan,” kata Wan. (rls)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *