Implementasi Iman yang Sejati

PEKANBARU (selasihmedia) – Implementasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “to implement” yang berarti mengimplementasikan. Implementasi merupakan penyediaan sarana untuk melaksanakan sesuatu yang menimbulkan dampak atau akibat terhadap sesuatu. Implementasi melaksanakan atau menerapkan, artinya bagaimana kita melaksanakan keimanan kita.

Demikian disampaikan Pnt. Yohanes Wiyarno, Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Jemaat Nehemia Rejosari Pekanbaru, dalam khotbah raya, Minggu 26 Februari 2023.

Adapun ayat bacaan Firman Tuhan terambil dari Daniel 3:8-18; Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi. Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: “Ya raja, kekallah hidup tuanku!

Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu, dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.

Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.

Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja, berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?”

Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Pnt. Yohanes menyampaikan dalam khotbahnya bahwa penyembahan patung atau berhala saat itu menjadi kegiatan ibadah. Patung emas dibuat sedemikian rupa dan cukup tinggi dan besar. Dan orang-orang turut sujud menyembah patung emas itu. Bagi siapa yang berani melanggar perintah atau tidak mau menyembah patung emas buatan raja Nebukadnezar, maka akan dihukum dan dimasukkan ke dalam bara api.

Namun apa yang terjadi, bahwa ada beberapa orang Sadrakh, Mesakh, dan Abednogo (SMA, red) tidak mengindahkan perintah raja karena kesetiaan imannya kepada Allah.

Orang-orang Kasdim timbul keirian kepada Sadrakh, Mesakh, dan Abednogo. SMA ini adalah orang yang setia kepada Tuhan yang tidak mau menyembah patung emas, walaupun mereka itu sebenarnya orang kepercayaan raja dan tidak mau menyembah patung buatan raja.

Hendaknya janganlah kita mirip dengan orang-orang Kasdim, karena orang-orang ini senang melihat orang susah dan memiliki iri hati serta cari muka di hadapan raja.

Yang menyelamatkan kita itu adalah Allah, bukan benda-benda atau patung. Kita harus tahan uji, jangan takut capek.

Biarlah kita menjadi pengisi istana surga. Biarlah kita kalah dengan gemerlapnya dunia dan menang di surga. Mari pertahankan keimanan dan integritas yang baik di dalam diri kita.

Kita harus memasrahkan kehidupan kita kepada Tuhan Allah. Keimanan kita pasrah dan menyerahkan pada Tuhan. Sebab hanya Tuhanlah yang pantas disembah. Selamat hari Minggu dan Tuhan memberkati.*

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *